Pinjaman dana tunai
Shutterstock/4 Perbedaan Dasar Pinjaman Dana Tunai Syariah dan Kredit Konvensional

4 Perbedaan Dasar Pinjaman Dana Tunai Syariah dan Kredit Konvensional

PaperEdukasi – Mengambil pinjaman dana tunai di bank sering kali menjadi solusi ketika kita membutuhkan dana dalam waktu cepat dan tidak terbelit proses yang terlampau sulit. Fasilitas ini tidak saja tersedia di bank konvensional, tapi juga di bank syariah yang disebut kredit syariah.

Dalam hukum Islam, diyakini bahwa segala bentuk bunga adalah riba dan karenanya dilarang atau haram. Karena itu, pinjaman dari bank syariah atau kredit syariah adalah proses peminjaman uang yang bebas dari riba. Sehingga hukum kartu kredit syariah pun dinyatakan halal.

Artikel ini akan membahas 4 perbedaan mendasar pinjaman dana tunai syariah dan kredit konvensional beserta contohnya, semoga menjadi wawasan berharga bagi para pembaca. Berikut ulasan lengkapnya.

1. Unsur Bunga

Di dalam pinjaman konvensional, pinjaman atau kredit diberikan atas akad pinjaman dan dengan begitu debitur atau peminjam diwajibkan untuk mengembalikannya bersama dengan bunga. Akan tetapi, di dalam prinsip syariah, bunga sama sekali tidak diperbolehkan karena dianggap sebagai riba.

Oleh sebab itu, di dalam pinjaman dana tunai syariah tidak mengenal prinsip akad bunga, namun memakai akad murabahah atau jual beli, ijarah wa iqtina atau sewa dengan perubahan kepemilikan serta musyarakah mutanaqishah atau capital sharing.

Di dalam akad murabahah, pihak bank bertindak sebagai pembeli benda yang diinginkan oleh debitur atau nasabah. Kemudian, bank akan menjual benda tersebut kepada pihak nasabah dengan margin harga tertentu.

Contoh:

Seorang nasabah ingin membeli sebuah mobil berhaga Rp 150 juta. Oleh bank, mobil tersebut akan dibeli yang kemudian akan menjualnya kembali kepada nasabah yang menginginkannya dengan harga Rp 155 juta.

Jumlah tersebut akan diangsur oleh nasabah dalam jangka waktu tertentu. Perbedaan harga atau keuntungan yang ada merupakan keuntungan milik bank. Di dalam ijarah wa iqtina, pihak bank akan membelikan barang yang diinginkan oleh nasabah.

Di sini, nasabah hanya harus menyewa benda tersebut selama jangka waktu tertentu. Akan tetapi, setelah barang tersebut digunakan selama jangka waktu tertentu, nasabah bisa memutuskan untuk membelinya.

Di dalam prinsip mutanaqishah, baik bank maupun nasabah menaruh modal di dalam suatu hal, misalnya saja bank memberikan pembiayaan sebesar 60% dari pembelian mobil dan pihak nasabah dikenakan 40%.

Di kemudian hari, nasabah dapat membeli porsi kepemilikan bank yang menjadikan mobil tersebut sebagai miliknya pribadi sepenuhnya.

2. Berbagi Resiko

Di dalam system pembiayaan konvensional, pihak nasabah sepenuhnya menanggung resiko apabila tidak dapat mengembalikan pinjaman.

Di dalam prinsip syariah, pihak bank sebagai kreditur juga ikut menanggung sebagian resiko tersebut.

Contoh:

seorang nasabah meminjam Rp 100 juta dengan kredit konvensional untuk modal usaha. Di sini, nasabah sebagai kreditur wajib untuk membayar kembali pokok pinjaman dengan bunga yang ditentukan meskipun usaha tersebut hanya menghasilkan Rp 75 juta.

Dengan pinjaman dana tunai syariah, jika nasabah meminjam Rp 100 juta untuk modal usaha, maka bank akan turut menanggung sebagian kerugian apabila ternyata usaha tersebut hanya menghasilkan Rp 75 juta.

3. Halal

Di dalam pembiayaan syariah, dana haruslah disalurkan untuk kepentingan yang halal.

Oleh sebab itu, nasabah wajib menyertakan tujuan penggunaan dana dan pemakaiannya pun juga tidak boleh melenceng dari hal tersebut.

4. Ketersediaan Pinjaman

Dalam hal dokumen, baik pinjaman dana tunai syariah maupun kredit konvensional tidaklah jauh berbeda.

Satu hal yang menjadi perbedaan adalah bahwa pinjaman syariah menawarkan produk yang dapat digunakan untuk kepentingan tertentu yang tidak terdapat di dalam pinjaman konvensional, misalnya untuk pendidikan, pembiayaan haji dan umroh dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *