Jenis-jenis Hukum dalam Islam dan Contohnya

By Paper Edukasi

Published on:

Jenis-jenis Hukum dalam Islam
---Advertisement---

Bagi umat Muslim, kehidupan di dunia ini harus sesuai dengan ketentuan Allah SWT sebagai Sang Pencipta Agung. Islam menyediakan pedoman berupa hukum-hukum yang membimbing umat Muslim dalam menjalani berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Dalam buku “Ushul Fiqh Kajian Hukum Islam” yang disusun oleh Iwan Hermawan, SAg, MPdI, dijelaskan konsep hukum taklifi, yang menguraikan perintah, larangan, dan pilihan (takhyir) terkait tindakan atau kelalaian tertentu. Konsep hukum ini sangat relevan dalam mengatur aktivitas sehari-hari.

Penting untuk memahami hukum-hukum Islam agar kita dapat membuat keputusan yang benar dalam menghadapi tindakan atau sikap tertentu. Hal ini akan membantu kita menghindari kesalahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

5 Jenis Hukum dalam Islam dan Contohnya

1. Kewajiban (Wajib)

Kewajiban adalah suatu perintah yang harus diikuti, di mana seseorang yang mengabaikannya akan mendapatkan dosa.

Terdapat empat jenis kewajiban berdasarkan aspek-aspek tertentu, yaitu waktu pelaksanaannya, orang yang berkewajiban melaksanakannya, ukuran atau kadar pelaksanaannya, dan isi perintahnya.

a. Waktu Pelaksanaannya

  1. Wajib Muthlaq: Kewajiban yang tidak memiliki batasan waktu pelaksanaan yang spesifik, seperti meng-qadha puasa Ramadan yang terlewatkan atau membayar kafarah sumpah.
  2. Wajib Muaqqad: Kewajiban yang memiliki waktu pelaksanaan yang telah ditentukan dan tidak boleh dilakukan di luar waktu yang telah ditetapkan.

b. Berdasarkan Pelaksananya:

  1. Kewajiban Pribadi (Wajib Aini): Kewajiban ini harus dipenuhi secara individu, dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Contohnya adalah ibadah puasa dan salat.
  2. Kewajiban Kelompok (Wajib Kafa’i atau Kifayah): Kewajiban ini berlaku bagi sekelompok orang, dan jika tidak ada satupun dari mereka yang melaksanakannya, maka semua orang dalam kelompok tersebut akan berdosa. Namun, jika beberapa anggota kelompok melaksanakannya, maka kewajiban tersebut dianggap terpenuhi. Contohnya adalah salat jenazah.

c. Berdasarkan Ukuran atau Kadar Pelaksanannya:

  1. Kewajiban Terukur (Wajib Muhaddad): Kewajiban ini harus dipenuhi sesuai dengan kadar atau ukuran yang telah ditetapkan dalam ketentuan agama, seperti zakat.
  2. Kewajiban Tanpa Kadar Tertentu (Wajib Ghairu Muhaddad): Kewajiban ini tidak memiliki ukuran atau kadar yang spesifik yang harus dipenuhi, misalnya memberi nafkah kepada kerabat.

d. Berdasarkan Kewajiban Perintahnya:

  1. Kewajiban yang Tertentu (Wajib Mu’ayyan): Kewajiban ini sudah ditetapkan dengan jelas dalam agama dan tidak ada pilihan lain untuk melaksanakannya. Contohnya adalah membayar zakat dan melaksanakan salat lima waktu.
  2. Kewajiban yang Bisa Dipilih (Wajib Mukhayyar): Kewajiban ini memberikan opsi untuk memilih antara beberapa alternatif dalam melaksanakannya. Contohnya adalah kafarat pelanggaran sumpah yang bisa dipilih sesuai dengan kondisi dan kemampuan individu.

2. Sunnah

Jenis kedua adalah Sunnah.

Sunnah adalah perbuatan yang dianjurkan dalam agama Islam, dan orang yang melaksanakannya akan mendapat pahala, tetapi tidak akan berdosa jika ditinggalkan. Jenis-jenis Sunnah dapat dibedakan berdasarkan tingkat kepentingan atau tuntutan untuk melaksanakannya:

  1. Sunnah Muakkadah (Sunnah yang Ditekankan): Sunnah ini adalah perbuatan yang selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, dengan penekanan khusus, meskipun bukan termasuk dalam kategori fardhu (wajib). Contohnya adalah Shalat Witir.
  2. Sunnah Ghairu Mu’akkadah (Sunnah yang Tidak Ditekankan): Sunnah ini juga dilakukan oleh Nabi, tetapi tidak dengan penekanan khusus, dan tidak diwajibkan untuk melakukannya. Contohnya adalah Shalat 4 rakaat sebelum Dzuhur dan sebelum Ashar.

3. Makruh

Jenis ketiga adalah Makruh.

Makruh secara etimologi bermakna “mubghadh” (yang tidak disukai). Menurut mayoritas ulama, Makruh adalah larangan terhadap suatu perbuatan dalam agama. Namun, perlu diingat bahwa larangan ini tidak bersifat mutlak, karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut haram.

Dengan kata lain, orang yang menjauhi perbuatan yang dilarang dalam Makruh akan mendapatkan pahala sebagai ganjaran. Namun, jika mereka tidak menjauhinya, mereka tidak akan dikenai dosa.

Para ulama membagi Makruh menjadi dua kategori:

  1. Makruh Tahrim (Makruh yang Dilarang): Makruh Tahrim adalah sesuatu yang dilarang secara pasti oleh syariat. Contohnya adalah larangan bagi laki-laki untuk memakai perhiasan emas.
  2. Makruh Tanzih (Makruh yang Dianjurkan untuk Ditinggalkan): Makruh Tanzih adalah sesuatu yang disarankan oleh syariat untuk dihindari, tetapi larangannya tidak bersifat mutlak. Contohnya adalah memakan daging kuda saat sangat dibutuhkan dalam situasi perang.

4. Mubah

Jenis keempat adalah Mubah.

Hukum Mubah memberikan kebebasan bagi seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan tertentu. Jika seseorang memilih untuk melakukannya, ia tidak akan mendapatkan pahala, namun juga tidak akan berdosa.

Ini berarti bahwa jika sesuatu dianggap Mubah, maka tidak ada konsekuensi pahala atau dosa yang terkait dengan tindakan tersebut.

Ulama dalam ilmu ushul fiqih membagi Mubah menjadi tiga kategori:

  1. Tidak Mengandung Mudharat (Tidak Berbahaya): Jenis ini tidak membawa dampak berbahaya baik jika dilakukan maupun jika tidak. Contohnya adalah tindakan sehari-hari seperti makan, minum, dan berpakaian.
  2. Tidak Ada Mudharat Jika Dilakukan, Tetapi Diharamkan pada Prinsipnya: Ini adalah tindakan yang pada dasarnya diharamkan dalam agama, tetapi dalam situasi darurat atau keadaan tertentu, tindakan tersebut menjadi diperbolehkan tanpa adanya mudharat (bahaya). Contohnya adalah memakan daging babi dalam keadaan darurat.
  3. Sesuatu yang pada Dasarnya Mudharat, Tetapi Dimaafkan oleh Allah SWT: Ini adalah tindakan yang pada dasarnya membawa mudharat, namun Allah SWT memaafkan pelakunya. Contohnya adalah melakukan pekerjaan yang diharamkan sebelum Islam, karena pada masa itu hukum agama belum ditetapkan dengan jelas.

5. Haram

Jenis kelima adalah Haram.

Haram dalam terminologi agama Islam merujuk pada sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Orang yang melanggar larangan ini akan mendapatkan dosa, sementara mereka yang menjauhinya akan mendapatkan pahala.

Menurut pandangan Madzhab Hanafi, hukum haram harus didasarkan pada dalil qathi yang tidak meninggalkan ruang untuk keraguan. Oleh karena itu, penetapan sesuatu sebagai haram tidak boleh dipermudah.

Terdapat beberapa jenis haram yang diidentifikasi oleh mayoritas ulama, yaitu:

  1. Al Muharram li Dzatihi (Haram Berdasarkan Esensi): Ini merujuk pada sesuatu yang diharamkan oleh syariat karena esensinya memiliki dampak yang merugikan bagi kehidupan manusia. Contohnya adalah mengkonsumsi bangkai, minum minuman keras (khamr), atau berzina.
  2. Al Muharram li Ghairihi (Haram karena Faktor Eksternal): Ini adalah jenis haram yang dilarang bukan karena sifat atau kandungannya, tetapi karena faktor-faktor eksternal. Contohnya adalah praktik jual beli dengan sistem riba.

Demikianlah, ini adalah penjelasan singkat mengenai 5 hukum dalam Islam yang penting untuk diketahui. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda.

Leave a Comment